Kamis, 03 Juli 2014

Anak Muda dan Bahasa



Bahasa menunjukkan bangsa, pepatah yang sebenarnya jika difikir-fikir sedang menyinggung anak muda jaman sekarang. Coba amati,
Berapa banyak anak muda jaman sekarang yang masih gemar menonton film yang bernuansa jaman dulu dimana bahasanya masih “sastra banget”.
Berapa banyak anak muda yang masih sering mengoleksi buku puisi karya Khairil Anwar atau Khalil Gibran dibanding dengan buku 1001 cara menggombal yang jitu?
Ada yang hilang.
Apa yang hilang?
Nilai.
Siapa pun yang membaca coretan saya ini saya harap mulai mengamati bagaimana reduksi nilai dalam bahasa secara halus telah benar-benar terjadi.

Anak muda adalah generasi penerus yang benar-benar diharapkan mampu membangun negara ini. Tapi coba amati sekali lagi anak muda jaman sekarang, tidak usah jauh-jauh, amati saja diri kita sendiri, betapa bahasa sehari-hari telah membuat pengaruh besar terhadap pola berbahasa kita. 
Dalam forum resmi, sebut saja diskusi kelas, forum resmi paling sederhana, tidak jarang kita dapati penyampaian gagasan yang terdominasi oleh bahasa sehari-hari. “begini. Menurutku pak toh” pernah dengar seperti itu? Atau jangan-janagn kita sendiri yang sering menyebutkannya dalam diskusi (hehe). 
Mungkin maksudnya baik, supaya apa yang kita sampaikan dapat lebih mudah dicerna oleh orang lain, tapi kita harus ingat bahwa forum diskusi itu tempat kita belajar agar setidaknya kita mampu memproduksi kata-kata yang berkualitas yang sarat makna. Diskusi bertujuan mengajarkan kita berbicara, bukan sekedar menyampaikan ide.

Hal yang lain lagi, bahasa sehari-hari jelas telah mendominasi penggunaan bahasa lain. Contohnya ketika di dalam kelas guru bertanya, sudah selesai? Jawaban paling sering diucapkan adalah “belum pi pak” atau “sudah mi bu’”. 
Sepele memang, tapi sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harusnya bisa membuat kita belajar berbahasa dalam situasi yang berbeda dengan situasi kita sehari-hari. Di rumah bisa kita gunakan, dalam kelompok bermain atau teman-teman gaul bisa digunakan tapi ini lembaga formal loh. 
Sebaiknya kita belajar dari air yang fleksibel terhadap wadah dimana ia berada,yang artinya kita juga harus belajar menempatkan bahasa sesuai dengan lingkungannya. 
Misalnya, saat hendak mempraktekkan bahasa inggris, saat bersama teman-teman sepergaulan, oke oke saja saat kita mengatakan “let’s go mi je’” tapi ingat, saat di dalam kelas, bahasa seperti itu tidak digolongkan sebagai bahasa inggris yang sah digunakan.

Hal lain lagi yang sebenarnya menggelisahkan hati para pengamat budaya seluruh indonesia (termasuk saya,aamiin hehe) adalah anak muda lebih bangga menggunakan bahasa asing. “gamsa hamnida”, “arigato gozaimasu”, “have you taken a pray?” dll. terlihat lebih diminati dibanding kebanggan terhadap bahasa sendiri. 
Penggunaan bahasa asing memang tidak dilarang, tapi kita juga harus ingat bahwa, bahasa asing dipelajari adalah untuk menambah keterampilan berbahasa kita, bukan malah menjadikan kita lebih bangga terhadap bahasa asing.

Fenomena yang terjadi di atas hanya sebagian dari banyaknya fenomena lain yang terjadi, yang menjadi kekhawatiran adalah ketika anak muda sudah tidak lagi peduli dengan bahasa Indonesia dan membiarkan nilai dalam bahasa itu menjadi benar-benar tersamarkan. 
Bukankah bahasa menunjukkan bangsa? Dan masa depan bangsa kita terletak di tangan anak-anak muda. Jadi perlu kita hentikan mereduksi nilai bahasa. Perlu kita hentikan sikap acuh terhadap penyesuaian penggunaan bahasa. Perlu kita hentikan berbahasa campur-campur.

Jika berbahasa daerah, berbahasa daerahlah dengan baik.
Jika berbahasa asing, berbahasa asinglah dengan baik
Dan jika berbahasa Indonesia, berbahasa Indonesialah dengan baik.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus