Bahasa menunjukkan
bangsa, pepatah yang sebenarnya jika difikir-fikir sedang menyinggung anak muda
jaman sekarang. Coba amati,
Berapa banyak anak muda
jaman sekarang yang masih gemar menonton film yang bernuansa jaman dulu dimana
bahasanya masih “sastra banget”.
Berapa banyak anak muda
yang masih sering mengoleksi buku puisi karya Khairil Anwar atau Khalil Gibran
dibanding dengan buku 1001 cara menggombal yang jitu?
Ada yang hilang.
Apa yang hilang?
Nilai.
Siapa pun yang membaca
coretan saya ini saya harap mulai mengamati bagaimana reduksi nilai dalam
bahasa secara halus telah benar-benar terjadi.
Anak muda adalah
generasi penerus yang benar-benar diharapkan mampu membangun negara ini. Tapi
coba amati sekali lagi anak muda jaman sekarang, tidak usah jauh-jauh, amati
saja diri kita sendiri, betapa bahasa sehari-hari telah membuat pengaruh besar
terhadap pola berbahasa kita.
Dalam forum resmi, sebut saja diskusi kelas,
forum resmi paling sederhana, tidak jarang kita dapati penyampaian gagasan yang
terdominasi oleh bahasa sehari-hari. “begini. Menurutku pak toh” pernah dengar
seperti itu? Atau jangan-janagn kita sendiri yang sering menyebutkannya dalam
diskusi (hehe).
Mungkin maksudnya baik, supaya apa yang kita sampaikan dapat
lebih mudah dicerna oleh orang lain, tapi kita harus ingat bahwa forum diskusi
itu tempat kita belajar agar setidaknya kita mampu memproduksi kata-kata yang
berkualitas yang sarat makna. Diskusi bertujuan mengajarkan kita berbicara,
bukan sekedar menyampaikan ide.
Hal yang lain lagi,
bahasa sehari-hari jelas telah mendominasi penggunaan bahasa lain. Contohnya
ketika di dalam kelas guru bertanya, sudah selesai? Jawaban paling sering
diucapkan adalah “belum pi pak” atau “sudah mi bu’”.
Sepele memang, tapi
sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harusnya bisa membuat kita belajar
berbahasa dalam situasi yang berbeda dengan situasi kita sehari-hari. Di rumah
bisa kita gunakan, dalam kelompok bermain atau teman-teman gaul bisa digunakan
tapi ini lembaga formal loh.
Sebaiknya kita belajar dari air yang fleksibel
terhadap wadah dimana ia berada,yang artinya kita juga harus belajar
menempatkan bahasa sesuai dengan lingkungannya.
Misalnya, saat hendak
mempraktekkan bahasa inggris, saat bersama teman-teman sepergaulan, oke oke
saja saat kita mengatakan “let’s go mi je’” tapi ingat, saat di dalam kelas,
bahasa seperti itu tidak digolongkan sebagai bahasa inggris yang sah digunakan.
Hal lain lagi yang
sebenarnya menggelisahkan hati para pengamat budaya seluruh indonesia (termasuk
saya,aamiin hehe) adalah anak muda lebih bangga menggunakan bahasa asing.
“gamsa hamnida”, “arigato gozaimasu”, “have you taken a pray?” dll. terlihat
lebih diminati dibanding kebanggan terhadap bahasa sendiri.
Penggunaan bahasa
asing memang tidak dilarang, tapi kita juga harus ingat bahwa, bahasa asing dipelajari
adalah untuk menambah keterampilan berbahasa kita, bukan malah menjadikan kita
lebih bangga terhadap bahasa asing.
Fenomena yang terjadi
di atas hanya sebagian dari banyaknya fenomena lain yang terjadi, yang menjadi
kekhawatiran adalah ketika anak muda sudah tidak lagi peduli dengan bahasa
Indonesia dan membiarkan nilai dalam bahasa itu menjadi benar-benar
tersamarkan.
Bukankah bahasa menunjukkan bangsa? Dan masa depan bangsa kita
terletak di tangan anak-anak muda. Jadi perlu kita hentikan mereduksi nilai
bahasa. Perlu kita hentikan sikap acuh terhadap penyesuaian penggunaan bahasa.
Perlu kita hentikan berbahasa campur-campur.
Jika berbahasa daerah,
berbahasa daerahlah dengan baik.
Jika berbahasa asing,
berbahasa asinglah dengan baik
Dan jika berbahasa
Indonesia, berbahasa Indonesialah dengan baik.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus